Kotribusi dakwah
Kontribusi (Al-Atha’ ) dalam dakwah
1.
Al-Atha’ Al Fikry (Kontribusi
Pemikiran)
2.
Al-Atha’ Fanny (Kontribusi
Keterampilan)
3.
Al-Atha’ Al-Maaly (Kontribusi
Materi)
4.
Al-Atha’ An-Nafsy (Kontribusi
Jiwa)
Kontribusi jiwa (nafs) dapat berbentuk
pengorbanan untuk menundukkan dorongan-dorongan nafs-nya yang
memerintahkan kepada fujur dan menyerahkannya kepada ketakwaan.
Kontribusi
terbesar diberikan seseorang kepada dakwah apabila ia rela tidak saja
menundukkan jiwa kebakhilannya, tetapi bahkan melepas jiwanya itu sendiri dari
badannya demi perjuangan dakwah. Inilah cita-cita terbesar dari seorang pejuang
dakwah yang diikrarkannya tatkala ia mulai melangkahkan kakinya di jalan dakwah:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah
lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari
Allah di dalam Taurat, Injil, dan AlQur-an. Dan siapakah yang lebih menepati
janjinya (selain) dari pada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang
telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah:
111).
5. Al-Atha’ Al-Mulky (Kontribusi Kewenangan)
Kiat untuk dapat memberikan kontribusi dakwah
Untuk
dapat mendorong dirinya memberikan kontribusinya dalam dakwah, aktivis dakwah
perlu mengupayakan kiat-kiat jitu dalam berkorban. Pertama, biasakan diri untuk memberikan kontribusi setiap hari meskipun dalam jumlah yang kecil. Sedapatnya bisa berkorban baik harta, waktu, dan tenaga setiap hari, pekan ataupun waktu-waktu lainnya. Kalau perlu dengan ukuran yang jelas, misalnya satu hari memberikan kontribusinya untuk dakwah Rp 1.000 atau dua jam dari waktunya atau satu gagasannya. Sehingga apa yang ia berikan dapat terukur. Untuk dapat membiasakannya bila perlu memberikan sanksi jika meninggalkan kebiasaan tersebut. Seperti Umar menyumbangkan kebunnya karena tidak shalat berjamaah. Ibnu Umar memperpanjang shalatnya bila tidak berjamaah. Rasulullah saw. mengerjakan shalat dhuha 12 rakaat bila meninggalkan qiyamullail.
Kedua, meningkatkan kemampuan visualisasi terhadap balasan
dan ganjaran dunia dan akhirat. Apalagi balasan yang dijanjikan-Nya sangat
besar, Allah swt. akan memberikan kedudukan yang kokoh di dunia atas segala
kontribusi yang diberikan (An-Nuur: 55). Allah swt. juga memandang mulia orang
yang berkorban, bahkan derajatnya ditinggikan dari orang yang lainnya
(An-Nisaa’: 95). Keyakinan akan balasan dan ganjaran yang diberikan akan
memudahkan orang akan menyumbangkan apa saja yang dimilikinya.
Ketiga, selalu bercermin pada orang lain dalam berkorban.
Orang beriman akan menjadi cermin bagi yang lainnya. Dengan senantiasa melihat
apa yang dilakukan yang lain. Paling tidak dapat memberikan dorongan untuk
melakukan seperti yang dilakukan orang lain. Tidak jarang para sahabat
berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan lantaran bercermin dari sahabat
lainnya.
Keempat, selalu meyakini bahwa setiap pengorbanan yang
diberikan akan memberikan manfaat yang sangat besar baik bagi dirinya ataupun
yang lain. Keyakinan yang demikian akan mendorong untuk selalu berbuat. Sebab,
betapa banyaknya orang yang dapat menikmati atau mengambil faedah dari apa yang
kita lakukan. Sebagaimana ditemukan sebuah penelitian, para pekerja pembuat
obat di pabrik tidak jadi melakukan mogok kerja karena mereka melihat langsung
bahwa banyak pasien di rumah sakit yang sangat membutuhkan obat yang mereka
buat.
Kelima,
senantiasa berdoa pada Allah swt. agar dimudahkan untuk selalu berkorban.
Karena Allah swt. pemilik hati orang beriman sehingga dengan berdoa diharapkan
hati kita senantiasa berada di barisan terdepan untuk memberikan kontribusi
bagi kemenangan dakwah. Dengan berdoa dapat bertahan untuk memperjuangkan
dakwah hingga akhir hayat kita.
Komentar
Posting Komentar
silahkan coment, OK!