Bekerja dan masyarakat hura-hura



Alhamdulillah atas segala yang Allah berikan kepada kita, shalawat dan salam untuk suri tauladan manusia, yang mengajarkan petunjuk secara teknis kepada manusia bagaimana menjalani hidup yang benar bersahaja di dunia dan mendapatkan syurga, insyaallah.

“Bekerja dan masyarakat hura-hura”
Qs. Al-Ambiya: 1-2
“ Telah semakin dekat kepada manusia perhitungan amal mereka. Sedang mereka dalam keadaan lalai (dengan dunia), berpaling (dari akhirat). Setiap diturunkan kepada mereka aya-ayat yang baru dari Tuhan mereka mendengarkannya sambil bermain-main”.
Realita yang kita liat saat sekarang ini, dimana terlalu banyak orang-orang muda, masih kuat, tidak cacat hidup bersantai-santai. Duduk-duduk sambil tertawa, bersenda gurau sepanjang hari dan terkadang sampai tengah malam. Bermain kartu Dari pagi sampai sore dan dilanjutkan setelah pulang makan. Bermain gitar, main games dan hal-hal lain yang tidak begiotu bermanfaat untuk hidupnya. Kondisi ini sangat mudah kita temui, dikedai-kedai kecil, persimpanghan jalan, pusat-pusat perbelanjaan, kampus, pasar, taman-taman, dll.
Kalau berkaca dari hasil survey badan pusat statistik, jumlah pengangguran masyarakat Indonesia tahun 2013 ada sebanyak 7,17 juta orang menganggur. Jumlah itu adalah masyarakat dengan kondisi masyarakat siap kerja. Betapa banyaknya potensi yang tersia-siakan. Seharusnya ada sesuatu hal yang dapat dihasilkan yang akan menjamin keberlangsungan hidup pribadi dan keluarga khususnya. Hal yang sangat memprihatinkan bagi kita kita bersama.
Terlepas dari peliknya masalah yang membelenggu negara ini, mungkin ada beberapa hal yang bisa perbuat sebagai upaya masing-masing kita dalam membantu menyelesaikan masalah ini. Kalau kita lihat kembali permasalahan tentang hidup tanpa aktifitas produktif yang dilakukan oleh sebagian orang ini, tidak hanya berhenti pada permasalahan itu namun juga akan mengekor masalah-masalah lain yang mengiringi masalah tersebut. Ketika kita mendengar ditelevisi ada kasus tawuran, judi, kejahatan jalanan dan lain sebagainya. hal-hal tersebut rata-rata diakibatkan oleh tidak terakomodirnya potensi dan tuntutan kebutuhan serta kebiasaan hidup yang suka bersantai-santai tanpa memikirkan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Setiap permaslahan yang terjadi, perlu penelusuran lebih tentang akar permasalahan. Bicara pada tingkat pendidikan, walaupun sebagian pelaku adalah orang-orang yang bermaslaah dari segi pendidikan namun faktor ini bukanlah faktor dasar dari permasalahan tersebut. Bila kita dengar cerita orang-orang dahulu, sangat jarang yang mengatakan bahwa anak-anak muda zaman dahulu memang suka berleha-leha atau duduk santai sepanjang hari. Kalaulah boleh kita jujur, sebenarnya bukan tingkat pendidikanlah yang menjadi penyebab banyaknya pekerjaan-pekerjaan tidak bermanfaat yang dilakukan  oleh orang-orang saat ini. Berkaca dari pola hidupnya orang minang dahulu, bagaimana kebiasaan untuk belajar, bekerja, mengaji dan merantau. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan-kegiatan itu bermanfaat. Kalau kita telisik lagi bagaimana Rasulullah menjalani masa hidupnya dengan hal-hal positif yang bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Bagaimana ustman bin affan yang tetap berjuang dengan maksimal serta tetap mengikuti seruan Jihad namun ketika tidak dikancah perperangan dia berada ditempat perdagangannya sehingga menjadi orang yang sangat kaya. Umar dengan kekayaannya namun tetap mengurus ummat. Serta contoh-contoh lainnya.
Pada akhirnya adalah tugas kita sebagai orang-orang yang mengazzamkan diri untuk perbaikan ummat ini. Dengan kita melihat keadaannya secara lebih rinci, ternyata menjadikan kita harus menyediakan sarana alternatif untuk mengajak orang-orang atau okjek dakwah lebih tertarik dan dapat diterima dengan baik. Penawaran solusi dari permasalahan yang mereka hadapi merupakan cara yang ampuh dalam meraih perhatian. Ketika hari ini serba kekurangannya lapangan pekerjaan bagaimana pola pemberdayaan dan pembinaan sebagai langkah merubah mindset hidup serta mencarikan solusi pekerjaan alternative untuk mereka. Ketika hari ini nyanyi-nyanyian, game,televisi, olahraga mengarahkan pada hal-hal yang hanya berbau hiburan dan cendrung melalikan, bagaimana kita bisa mencarikan solusi untuk menyalurkan kebutuhan mereka dengan cara yang mereka suka namun tetap mengacu kepada hal-hal yang positif.
Mindset hakekat kehidupan ini sebenarnya belum pas dipahami oleh sebagian orang walaupun mereka adalah orang islam yang seharusnya memahami hal ini. Namun kepelikan hidup terkadang menjadikan manusia seakan-akan tidak memahinya, dan tidak tertutup kemungkinan kita juga termasuk. Dan sabda Rasulullah yang menggambarkan kepada kita tentang mengartikan hidup ini, perlu kita ingat-ingat kembali;
“bekerjalah untuk kepentingan duniamu seolah-olah engkau hidup selama-lamanya; dan bekerjalah untuk kepentingan akhiratmu seolah-olah engkau akan mati esok hari”. (H.R. Ibnu Asakir).
Bagaimana hari ini kita dihadapkan dengan kondisi masyarakat yang cendrung hedonis, lebih suka bersenang-senang yang tidak mendatangkan kebermanfaatan baik untuk dirinya sendiri apalagi untuk orang lain. Peran aktif dan soluktif dari kita untuk mencarikan solusi sebagai bentuk dak’wah. Dengan solusi cerdas dan tepat bagi mereka akan melancarkan perbaikan ummat ini.
“semoga kita dapat bersama disyurganya Allah, dengan ikhlasnya kita berda’wah ini” 
….@ari3do

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Status

Romantisme Rasulullah