Apakah ke-tabu-an itu pas?

Masa anak-anak hingga beranjak remaja merupan waktu yang sangat menentukan dalam proses membentuk karakter seseorang. Keberhasilan pada periode awal itu akan menciptakan karakter individu yang baik pula, seperti halnya memelihara sebatang tanaman jika proses awal pemeliharaan ini berlangsung dengan baik dapat dipastikan tanaman yang akan dihasilkan adalah tanaman dengan kualitas terbaik. Hal ini juga berlaku sebaliknya jika proses awalnya telah salah sudah dapat dipastikan hasil akhirnya juga akan tidak baik.

Dari dulu hingga sekarang kehidupan masyarakat Indonesia lebih akrab disebut dengan bangsa dengan budaya ketimurannya, dimana nilai-nilai kesopanan, kebaikan sangat kental dirasakan. Jika bicara disebut budaya barat maka analoginya adalah kebobrokan. Hal inilah yang sedikit menggelitik pikiran saya, apakah hal ini masih relevan untuk saat ini. Apakah nilai-nilai yang terkandung dalam budaya timur itu memang masih ada di bangsa yang tercatat dengan tingkat keterpurukan moral yang sangat mengkhawatirkan saat ini. Salah satu data yang membuat saya semakin berfikir ulang akan cap bangsa dengan budaya ketimuran perlu dikaji ulang apakah masih relevan atau tidak adalah Indonesia menempati peringkat pertama di asia tenggara dengan angka kasus pedofilia tertinggi.

Beranjak dari masalah inilah, saya coba sedikit berfikir apakah gerangan akar permasalahnya. Kalaulah boleh saya menelisik kasus yang disampaikan tadi dan mencoba mengkaji permasalahannya. Persoalan seks merupakan hal yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Persoalan fundamental yang akan mempengaruhi persepsi orang pada masyarakat tertentu, wilayah tertentu dan bisa juga pada bangsa tertentu misalnya Indonesia dengan penilaian yang dikaitkan dengan penilaian angka pedofilia seperti yang disebutkan sebelumnya. Katagori masalah ini yang sangat urgent, namun saya melihat proporsi solusi yang ditawarkan akan hal ini tidaklah se-paten yang diharapkan.

Dalam beberapa diskusi yang disiarkan beberapa media sering disebutkan kalau solusi yang harus dijalankan untuk menyelesaikan permasalahan ini adalah meningkatkan peran orang tua dan orang terdekat dalam proses edukasi kepada anak atau anggota keluarga. Proses transfer nilai-nilai dan pendampingan anak dalam menjalani perkembangannya. Melek dengan hal-hal baru yang berkembang lebih cepat dan variatif serta aktif mencarikan solusi yang tepat dari pihak keluarga.

Realita yang ada saat ini justru menjadi penghalang proses jalannya solusi kongkrit dari permasalahan seks edukasi tersebut. Kebiasaan orang yang cendrung berat atau merasa sungkan bahkan menganggap hal yang tidak etis untuk membahas permasalah seks tersebut dengan anggota keluarga, baik dari orang tua ke anak, kakak kepada adik, paman kepada ponaan. Tabu membahas masalah ini dan cendrung membiarkan proses pembelajaran itu diperoleh secara sendiri yang anggota keluarga tidak mengetahuinya. Tabu pada masa lampau dapat diartikan bahwa nilai-nilai seperti ini tidak dibahas secara langsung namun proses edukasi yang sangat penting akan hal ini tetap tercapai, dimana tingkat proteksi dan tingkat kepedulian sosial masyarakat sangat tinggi sehingga tidak terjadi ketimpangan. Hal ini sangat jelas berbeda dengan hari ini, dimana media yang menjadi faktor dominan sebagai sarana yang membanyangi setiap detik kehidupan manusia, menyediakan segala informasi, menyuguhkan berbagai bentuk kebutuhan manusia. Proteksi dari kepedulian sosial untuk hari ini tidaklah sama dengan waktu dulu, individu masyarakat yang mau memberikan perhatiakan dengan sangat intens akan pola perkembangan individu masyarakat lainnya tidaklah seperti dulu lagi. Perkembangan zaman memberikan dampak terhadap pola kehidupan bermasyarakat. Sehingga prinsip tabu secara tidak langsung juga berbeda.

Ke-tabu-an bukanlah hal yang salah menurut saya, namun juga tidak mutlak akan bernilai sama sepanjang masa. Memberikan pendidikan seks kepada anak mutlak saat ini dibutuhkan. Pendidikan seks seharusnya dipahami bukan jorok karena membahas hubungan suami istri, jauh dari hal itu pendidikan ini bertujuan setiap individu memahami bagaimana menjaga diri dan memiliki pemahaman terkait perkembangan hidupnya baik secara fisik maupun biologis serta pemikiran. Bukankah dengan kasus-kasus yang akhir ini terjadi menjadikan pelajaran kepada kita semua akan pentingnya pengetahuan tentang seks kepada generasi bangsa ini agar jangan sampai menjadi koban atau mungkin sebagai pelaku. Dalam lingkup keluarga, tabu membahas seks bukan berarti menutup diri dan cendrung mengharapkan penyelesaian terjadi dengan sendirinya. Memberikan pendidikan seks kepada anggota keluaraga terutama kepada anak oleh orang tua memang bukan hal mudah ditengah masih kentalnya nilai ke-tabu-an ini. Mengajarkan dengan mempertimbangakan tingkat penyerapan serta memahami perkembangan anak atau anggota keluarga sangat perlu dipahami. Dengan mencarikan pola pengajaran yang pas, sehingga tidak menimbulkan masalah lain, karena walaupun hal ini penting sedikit banyaknya juga akan memberikan efek yang kurang baik jika tidak dilakukan dengan cara-cara benar.

Semoga bahasa tabu yang kita maknai sesuai dengan posisinya, bukan vulgar namun mencoba memberikan porsi yang tepat pada tiap sisi dan masanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Status

Romantisme Rasulullah